Gunungsindur, Komunitastodays.com,— Upaya mewujudkan lembaga pemasyarakatan yang aman, bebas dari peredaran narkoba, serta produktif menjadi perhatian dalam kunjungan Hartono Suwongso, Ketua BPC PERADIN Jakarta Barat, ke Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Narkotika Kelas IIA Gunung Sindur.
Kunjungan tersebut menjadi momentum untuk menyoroti pentingnya penguatan pengawasan keamanan, peningkatan kualitas pembinaan warga binaan, serta pengembangan berbagai kegiatan produktif yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.

Dalam sistem pemasyarakatan, keamanan dan pembinaan merupakan dua aspek yang saling berkaitan. Lingkungan lapas yang aman dan tertib menjadi fondasi bagi pelaksanaan program pembinaan, sementara kegiatan produktif diharapkan mampu membekali warga binaan dengan keterampilan sebagai bekal ketika kembali ke tengah masyarakat.
Pengawasan Konsisten Jadi Kunci Pencegahan Narkoba
Kepala Lapas Narkotika Kelas IIA Gunung Sindur, Bambang Wijanarko, menjadi salah satu figur yang mendapat perhatian dalam konteks penguatan keamanan dan ketertiban di lingkungan pemasyarakatan.
Pencegahan peredaran narkoba di dalam lapas membutuhkan komitmen yang berkelanjutan, mulai dari pengawasan terhadap lingkungan hunian, pemeriksaan rutin, peningkatan kewaspadaan petugas, hingga penguatan koordinasi dengan aparat penegak hukum.
Sinergi antara petugas pemasyarakatan, TNI, Polri, dan Badan Narkotika Nasional (BNN) juga memiliki peran penting dalam mendukung upaya pencegahan dan pemberantasan peredaran gelap narkotika.
Pengawasan yang konsisten diharapkan dapat mempersempit ruang terjadinya pelanggaran, sekaligus menciptakan lingkungan pemasyarakatan yang lebih aman, tertib, dan kondusif bagi seluruh penghuni.
Lapas Produktif, Dorong Ketahanan Pangan dan Kemandirian
Selain aspek keamanan, pengembangan program pembinaan yang produktif menjadi perhatian penting dalam penyelenggaraan pemasyarakatan.
Sektor pertanian, peternakan, budidaya ikan, serta kegiatan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dapat menjadi sarana untuk meningkatkan keterampilan dan menumbuhkan kemandirian warga binaan.
Melalui kegiatan tersebut, warga binaan berkesempatan mempelajari keterampilan praktis yang dapat dimanfaatkan sebagai modal untuk menjalani kehidupan yang lebih baik setelah menyelesaikan masa pidana.
Di sisi lain, pengembangan kegiatan produktif juga berpotensi mendukung ketahanan pangan melalui pemanfaatan lahan, pengelolaan hasil pertanian, serta kegiatan budidaya yang dilakukan secara terencana dan berkelanjutan.
Dengan demikian, lapas tidak hanya menjalankan fungsi pengamanan dan pembinaan, tetapi juga dapat menjadi ruang pembelajaran untuk membangun tanggung jawab, etos kerja, dan kemampuan berwirausaha.
Hartono Suwongso: Penegakan Hukum dan Pembinaan Harus Berjalan Beriringan
Sebagai Ketua BPC PERADIN Jakarta Barat, Hartono Suwongso menaruh perhatian pada pentingnya keterpaduan antara penegakan hukum, keamanan, dan pembinaan yang berorientasi pada masa depan warga binaan.
Perspektif penegakan hukum tidak hanya berkaitan dengan pelaksanaan aturan, tetapi juga dengan pentingnya memastikan proses pembinaan berjalan secara terarah dan memberikan kesempatan bagi warga binaan untuk memperbaiki diri.
Lembaga pemasyarakatan yang aman, profesional, dan produktif merupakan bagian penting dari sistem pemasyarakatan yang diharapkan mampu memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat.
Karena itu, penguatan pengawasan terhadap narkoba perlu berjalan beriringan dengan pembinaan keterampilan, pengembangan kegiatan ekonomi produktif, serta upaya mempersiapkan warga binaan agar dapat kembali berintegrasi dengan masyarakat.
Pendekatan tersebut menempatkan keamanan sebagai fondasi, pembinaan sebagai proses perubahan, dan kemandirian sebagai salah satu tujuan yang ingin dicapai.
Membangun Pemasyarakatan yang Aman dan Bermanfaat
Kunjungan Hartono Suwongso ke Lapas Narkotika Kelas IIA Gunung Sindur menyoroti tiga hal penting dalam penguatan sistem pemasyarakatan, yakni pemberantasan narkoba, pengembangan ketahanan pangan, dan peningkatan kemandirian warga binaan.
Ketiganya membutuhkan konsistensi pelaksanaan, pengawasan yang berkelanjutan, serta dukungan dan sinergi berbagai pihak sesuai dengan peran masing-masing.
Keberhasilan pembinaan tidak hanya dilihat dari terciptanya situasi yang aman dan tertib di dalam lapas, tetapi juga dari kesiapan warga binaan untuk menjalani kehidupan yang lebih baik setelah kembali ke masyarakat.
Pada akhirnya, pemasyarakatan yang efektif adalah pemasyarakatan yang mampu menjaga keamanan, menegakkan aturan, dan membuka ruang bagi perubahan positif.
Pesan utama dari kunjungan ini jelas: berantas narkoba, perkuat ketahanan pangan, dan bangun kemandirian warga binaan demi terwujudnya lembaga pemasyarakatan yang aman, produktif, dan bermanfaat bagi masyarakat. (Har)


























