Jakarta, Komunitastodays.com,— Assoc. Prof. Dr. M.L. Denny Tewu, S.E., M.M. resmi mengemban amanah sebagai Ketua Program Studi Magister Manajemen (MM) Universitas Kristen Indonesia (UKI) periode 2026–2030. Dalam kepemimpinannya, Denny menegaskan komitmen untuk membawa MM UKI menjadi program studi yang semakin unggul, relevan, inovatif, berintegritas, dan berdampak bagi dunia pendidikan, dunia usaha, serta masyarakat.
Usai pelantikan, Denny menyampaikan bahwa jabatan sebagai Ketua Program Studi bukan sekadar posisi struktural, melainkan amanah untuk melayani, membangun, dan menghadirkan perubahan.

“Bagi saya, kepemimpinan adalah amanah untuk melayani. Prinsipnya adalah Melayani, Bukan Dilayani. Karena itu, kepercayaan ini harus diwujudkan melalui kerja nyata dan dampak yang dapat dirasakan mahasiswa, alumni, dunia usaha, dan masyarakat,” ujar Denny dalam keterangannya Sabtu (15/8/2026).
Perkuat Positioning MM UKI
Dalam periode 2026–2030, salah satu fokus utama kepemimpinan MM UKI adalah memperkuat kualitas akademik sekaligus memastikan kurikulum tetap relevan dengan perubahan kebutuhan dunia kerja dan industri.
MM UKI diarahkan untuk memiliki positioning yang semakin kuat dalam bidang manajemen berbasis risiko, Governance, Risk, Compliance and Sustainability (GRCS), strategic management, kepemimpinan, kewirausahaan, serta transformasi digital dan Artificial Intelligence (AI).
Menurut Denny, tantangan terbesar pendidikan tinggi saat ini adalah menjaga relevansi di tengah perubahan yang berlangsung sangat cepat.
Perguruan tinggi tidak lagi cukup hanya menghasilkan lulusan dengan kompetensi akademik, tetapi harus mampu menghasilkan pemimpin dan profesional yang sanggup mengambil keputusan di tengah risiko, ketidakpastian, disrupsi teknologi, dan tuntutan keberlanjutan.
Karena itu, MM UKI akan memperkuat kolaborasi dengan dunia usaha dan industri, pemerintah, alumni, organisasi sosial, komunitas, serta mitra nasional dan internasional.
“Semangat ke depan bukan hanya competition, tetapi juga collaboration and co-creation. Perguruan tinggi harus mampu membangun solusi bersama para pemangku kepentingan,” katanya.
UKI EMAS Diterjemahkan Menjadi Kerja Nyata
Kepemimpinan periode 2026–2030 juga akan menerjemahkan nilai UKI EMAS—Empowerment, Meaningfulness, Agility, dan Sustainability— ke dalam program dan budaya kerja.
Empowerment diwujudkan melalui pemberdayaan dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, dan alumni. Meaningfulness menekankan bahwa setiap program pendidikan harus memberikan manfaat dan dampak nyata. Agility menjadi kemampuan untuk cepat belajar dan beradaptasi terhadap perubahan, sedangkan Sustainability memastikan setiap keputusan memperhatikan keberlanjutan ekonomi, sosial, lingkungan, dan kelembagaan.
Dengan pendekatan tersebut, UKI EMAS diharapkan tidak berhenti sebagai slogan institusi.
“UKI EMAS harus bergerak dari nilai menjadi aksi, dari aksi menjadi kinerja, dan dari kinerja menjadi dampak,” tegas Denny.
AI untuk Memperkuat Pendidikan, Bukan Menggantikan Manusia
Perkembangan digitalisasi dan kecerdasan artifisial juga menjadi perhatian penting. Denny menilai AI seharusnya tidak semata-mata dipandang sebagai ancaman bagi pendidikan, melainkan sebagai instrumen untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Dalam pendidikan, teknologi dan AI akan diarahkan untuk mendukung pembelajaran yang lebih personal, interaktif, berbasis data, dan berorientasi pada penyelesaian kasus nyata.
Dalam penelitian, AI dapat membantu pengolahan dan analisis data serta meningkatkan produktivitas riset. Namun, pemanfaatannya harus tetap berlandaskan integritas akademik, etika, dan nilai-nilai kemanusiaan.
Sementara dalam pengabdian kepada masyarakat, MM UKI diharapkan semakin aktif membawa kompetensi akademik untuk membantu UMKM, dunia usaha, organisasi sosial, gereja, pemerintah, dan masyarakat dalam menyelesaikan berbagai persoalan manajemen dan organisasi.
“Transformasi digital yang kita perlukan bukan sekadar digitalisasi proses, tetapi transformasi cara berpikir dan cara menciptakan nilai. Teknologi harus memperkuat manusia, bukan menggantikan nilai-nilai kemanusiaan,” ujarnya.
Mahasiswa Harus Merasakan Transformasi
Pada akhirnya, keberhasilan kepemimpinan MM UKI periode 2026–2030 akan diukur dari perubahan yang benar-benar dirasakan mahasiswa dan masyarakat.
Mahasiswa diharapkan memperoleh pengalaman pendidikan yang semakin berkualitas, fleksibel, relevan dengan kebutuhan profesi, dekat dengan dunia usaha dan industri, memanfaatkan teknologi, serta memberikan akses terhadap jejaring profesional yang semakin luas.
Pendidikan Magister Manajemen, menurut Denny, tidak boleh berhenti pada pemberian gelar akademik.
“Mahasiswa yang masuk MM UKI harus mengalami transformasi kompetensi, karakter, kepemimpinan, dan cara berpikir. Mereka bukan hanya dipersiapkan untuk memperoleh gelar magister, tetapi menjadi pemimpin yang mampu mengelola risiko, perubahan, dan menciptakan dampak.”
Bagi masyarakat dan dunia usaha, MM UKI diharapkan semakin hadir melalui penelitian, konsultasi, inovasi, kolaborasi, serta pengabdian kepada masyarakat yang memberikan solusi terhadap persoalan nyata.
Dengan semangat “Melayani, Bukan Dilayani” serta “Bersama Melangkah, Bersama Berkarya, Bersama Meraih Keunggulan,” kepemimpinan MM UKI 2026–2030 diarahkan untuk membangun Program Magister Manajemen yang unggul, berkualitas, relevan, berintegritas, dan berdampak.
Melalui UKI EMAS, MM UKI juga menargetkan lahirnya pemimpin masa depan yang tidak hanya memiliki kompetensi manajerial, tetapi juga mampu mengelola risiko dan perubahan, memanfaatkan teknologi secara bertanggung jawab, serta menciptakan nilai yang berkelanjutan bagi organisasi dan masyarakat. (LIAN)
























