KOTA MAGELANG, Komunitastodays.com, — Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Kota Magelang bersama Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) Kota Magelang menggelar Doa Kebangsaan untuk Keselamatan Negeri di Monumen Tanah Air Satu Bangsa, Puncak Gunung Tidar, Kota Magelang, Jumat (11/9/2026).
Kegiatan tersebut digelar sebagai bentuk kepedulian terhadap kondisi bangsa sekaligus untuk memperkuat semangat persatuan, toleransi, dan kebersamaan masyarakat di tengah berbagai persoalan sosial yang terjadi di Indonesia.

Doa kebangsaan diikuti perwakilan berbagai suku, agama, dan daerah yang berada di Kota Magelang. Mereka berkumpul di Puncak Tidar untuk bersama-sama memanjatkan doa bagi keselamatan, kedamaian, persatuan, dan kesejahteraan bangsa Indonesia.
Kepala Bakesbangpol Kota Magelang, Drs. Agus Satiyo Haryadi, M.Si., memimpin langsung kegiatan tersebut. Dalam sambutannya, Agus menegaskan bahwa kegiatan doa kebangsaan bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi menjadi momentum untuk melakukan refleksi terhadap berbagai persoalan yang dihadapi bangsa.
Menurut Agus, dinamika sosial dan politik, persoalan korupsi, hingga bencana alam yang terjadi di sejumlah wilayah Indonesia menjadi bagian dari keprihatinan yang perlu direnungkan bersama.
Ia mengajak seluruh peserta untuk mengesampingkan berbagai perbedaan dan bersama-sama memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa agar Indonesia senantiasa diberikan keselamatan dan kedamaian.
“Doa Kebangsaan ini kita panjatkan bersama di Puncak Tidar, tempat yang tinggi, sebagai salah satu titik spiritual dan energi terbesar, dengan harapan doa itu lebih dekat dan cepat dikabulkan Tuhan Yang Maha Tinggi,” ujar Agus.
Puncak Tidar Dipilih karena Sarat Nilai Sejarah
Pemilihan Puncak Gunung Tidar sebagai lokasi kegiatan juga memiliki alasan tersendiri. Selain menjadi salah satu ikon Kota Magelang, Gunung Tidar memiliki nilai sejarah, budaya, dan spiritual yang kuat serta dikenal dengan sebutan “Pakuning Tanah Jawa.”
Sementara itu, Monumen Tanah Air Satu Bangsa yang menjadi lokasi kegiatan semakin memperkuat pesan persatuan yang ingin disampaikan.
Melalui kegiatan tersebut, Bakesbangpol dan FPK ingin menegaskan bahwa perbedaan suku, agama, budaya, dan asal daerah bukan menjadi penghalang untuk membangun kebersamaan sebagai satu bangsa Indonesia.
Doa Dipanjatkan dengan Semangat Kebersamaan
Suasana semakin khidmat ketika doa dipimpin oleh Habib Ahmad Wildan, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Magelang sekaligus anggota FPK Kota Magelang.
Doa dipanjatkan secara Islam dan diikuti seluruh peserta sesuai keyakinan serta tata cara agama masing-masing.
Sebelum doa dimulai, seluruh peserta juga diajak menundukkan kepala selama satu menit untuk mendoakan keselamatan bangsa dan negara.
Kegiatan tersebut berlangsung dalam suasana penuh kebersamaan. Perbedaan latar belakang peserta tidak menjadi sekat, melainkan menjadi gambaran keberagaman masyarakat Kota Magelang yang tetap dapat bersatu dalam semangat kebangsaan.
Agus berharap semangat kebersamaan tersebut tidak berhenti dalam kegiatan doa, tetapi dapat diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat.
Menurutnya, menjaga persatuan merupakan tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat. Pemerintah, tokoh agama, tokoh masyarakat, organisasi kemasyarakatan, dan seluruh warga memiliki peran dalam menjaga kerukunan serta keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Kegiatan Doa Kebangsaan di Puncak Tidar akhirnya menjadi momentum untuk memperkuat kembali komitmen kebangsaan dari Kota Magelang.
Dari Puncak Tidar, masyarakat Magelang memanjatkan doa untuk keselamatan Indonesia, sekaligus meneguhkan pesan bahwa keberagaman harus menjadi kekuatan untuk menjaga persatuan dan keutuhan bangsa.(Yana)
























