oleh

Alissa Wahid: Perempuan Indonesia Fokus Pada Kekuatan Diri Dan Sosial

-Politik-56 views

Jakarta,Komunitastodays,-Momentum Hari Kartini 21 April tak sekadar kenangan akan RA Kartini dan perjuangan emansipasinya. Dalam konteks Indonesia hari ini, Kartini memberi inspirasi agar perempuan Indonesia menjadi dirinya sendiri dengan memiliki kepribadian Pancasilais.

Hal itu dikemukakan putri Presiden RI ke-4 Gus Dur, Alissa Qotrunnada Munawarah Wahid di sela-sela kehadirannya pada acara “1 Juta Vaksin” di Kantor DPP PBNU, Kramat, Jakarta Pusat, Kamis (21/4/2022).

Kegiatan yang bertujuan mempercepat vaksinasi booster sebelum mudik Lebaran ini diselenggarakan oleh Kepolisian RI dan didukung PBNU dan Kementerian Agama RI.

Hadir pada kesempatan itu Menteri Agama H Yaqut Cholil Qoumas, Ketua Umum PBNU KH. Yahya Cholil Staquf, dan Kapolri Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo dan jajaran pimpinan ketiga lembaga yang bersinergi dalam kegiatan ini.

Alissa Wahid yang menjadi Ketua Tanfidziyah bidang Kesejahteraan Rakyat, Ekonomi, Lingkungan Hidup dan Budaya, di NU, melihat peluang besar perempuan Indonesia untuk lebih berkembang dan berpartmisipasi dalam memajukan masyarakat.

“Menurut saya, tentu saja, perjuangan perempuan Indonesia saat ini berbeda dengan perjuangan pada zaman RA Kartini. Setiap zaman ada tantangannya. Di masa RA Kartini, kesempatan untuk mendapatkan pendidikan dan mendapatkan hak-hak yang lebih setara itu lebih kecil, sementara untuk perempuan Indonesia sekarang, aksesnya sudah lebih besar.

Tetapi tantangan zaman sekarang adalah bagaimana perempuan itu bisa mengambil tempatnya yang paling baik di lingkungan masyarakat, karena peluang itu besar. Perempuan Indonesia harus membuktikan bahwa mereka memang bisa berkontribusi untuk memperbaiki masyarakat sekarang, di masa kini,” tutur Alissa.

Menurut Alissa, kaum perempuan harus mengisi dan ikut dengan kaum pria bukan untuk partisipasi saja melainkan berkontribusi.

Jadi, ada laki-laki lebih baik dari perempuan, dan ada juga perempuan yang lebih baik dari orang laki-laki. Jadi, bukan karena dia perempuan, lalu tidak boleh lebih baik daripada laki-laki.

Perempuan sekarang, ungkap Alissa, bisa memanfaatan teknologi digital untuk menunjukkan talentanya, untuk membuka peluang-peluang. Sekarang perempuan bisa menunjukkan apa yang bisa dia lakukan melalui mediasi. Peluangnya juga jauh lebih terbuka. Tapi dari situ juga kita bisa melihat bagaimana perempuan kemudian ikut membentuk watak masyarakat dengan sikap welas asih.

Masyarakat merasakan kalau laki-laki lebih banyak berkompetisi dan perempuan lebih banyak bekerja sama. Namun perempuan-perempuan Indonesia bisa berperan sebagai wanita bisa duduk di parlemen atau kementerian. Alissa mengatakan, keberanian seorang wanita perlu diakui.

Pada dasarnya masyarakat kita belum sepenuhnya bisa menerima peran perempuan termasuk di bidang politik. Ada sebagian yang menganggap bahwa perempuan lebih lemah daripada laki-laki, padahal kita punya bukti banyak sekali yang menyatakan perempuan juga kuat, bahkan ada bukti dalam sejarah. Tidak terbantahkan laksamana perang armada angkatan laut pertama di dunia adalah Laksamana Keumalahayati atau Malahayati dari Aceh.

“Sudah sejak dulu, perempuan Indonesia memperlihatkan prestasi hebat. Perempuan Indonesia sekarang yang mempunyai peluang jauh lebih besar, harus bisa lebih hebat,” tutur dosen psikologi itu.

“Tidak perlu ada keraguan,” kata Alissa, “yang paling penting adalah kita fokus pada kekuatan kita, mengasah diri kita, memperbaiki diri kita, menambah ketrampilan kita, sehingga sebagai perempuan kita semakin hadir di ruang publik untuk kebaikan bersama (bonum commune).

Dan yang paling penting adalah untuk membantu masyarakat, mendengar suara perempuan Indonesia. Perempuan-perempuan Indonesia itu harus menjadi pribadi yang tangguh, kepribadiannya memiliki nilai-nilai Pancasila,” ujar putri Presiden Abdurrahman Wahid itu. * (Rika)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed