oleh

Pelaku UMKM Didorong Bangun Branding Kolektif

-Berita-76 views

Jakarta,Komunitastodays,-Pelaku UMKM mengalami ketersendatan dalam mencari pasar untuk menjual produk mereka di saat pandemi. PPKM yang diterapkan sebenarnya hanya membatasi pergerakan orang, sementara permintaan dan penawaran tak bisa dibatasi.

Kalau kita melihat transformasi digital yang terjadi saat ini, maka soal permintaan dan penawaran produk itu, sudah sangat berkembang.

Banyak pelaku UMKM sudah melakukan digitalisasi produk mereka. Kita semua harus berubah agar produk kita tidak tertinggal.

Pendapat ini mengemuka dalam acara Seminar Merek Kolektif Sebagai Solusi Bagi Koperasi dan UMKM Untuk Meningkatkan Pertumbuhan Perekonomian Melalui Ekonomi Kreatif Pada Era Disrupsi di Hotel Sultan, Jakarta Pusat, Jumat (14/1/2022).

Menurut Dr Ary Zulfikar, Ketua Umum Perkumpulan Bumi Alumni (Lupba One Brand), mengatakan, para pelaku UMKM harus juga punya branding yang kuat. Ada branding indivual, ada yang kolektif.

Bagi pelaku UMKM, pembuatan branding individual itu butuh biaya. Ada biaya pendaftaran, promosi. Dengan adanya branding kolektif ini kita menggabungkan semua pelaku UMKM dengan one-brand yang tujuannya meningkatkan produktivitas. Branding kolektif ini justru menguntungkan pelaku UMKM.

Sudah lama pemerintah mendorong pelaku UMKM menggunakan branding, sejak 1992. Tapi, dari data yang ada, sampai Desember 2021, hanya ada 67 pemohon. Bayangkan, selama 28 tahun itu hanya ada 67 pemohon terkait branding usaha UMKM.

Sekarang, kita membuka pasar yang begitu besar dengan mengumpulkan pelaku UMKM yang sejenis untuk kemudian mau meningkatkan produktivitas. Itu tujuan seminar ini.

Kelemahan pelaku UMKM itu ada pada faktor pasar. Sekarang kita gunakan sarana digital sehingga pasar kita tak hanya domestik saja, tapi juga internasional. Kita bisa beli barang dari luar negeri lewat Amazon dari AS. Kenapa kita tidak balik, kita punya kemampuan produk dan perlu diperkenalkan ke pasar global sehingga orang mencari produk kita. Itulah kekuatan branding.

Kita membantu pelaku UMKM untuk membangun branding kolektif. Ini terobosan untuk menembus pasar domestik dan internasional.

Pemerintah lewat Kementerian Koperasi, Kemenkraf, dan BUMN memberikan banyak fasilitas untuk mendorong pelaku ekonomi kreatif dengan membuka akses pasar. Saatnya kita meresponsnya.

“Perkumpulan alumni kami, terkait hal di atas, ada di tengah untuk menjembatani pelaku yang mengalami pandemi covid-19 untuk merespons program-program yang disediakan oleh pemerintah. Maka kami membuat pembinaan dan pelatihan terhadap pelaku UMKM, yang bekerja sama dengan Kementerian terkait,” kata Ary.

Sudah saatnya kita berkolaborasi dalam menciptakan pasar. Dalam produksi kita juga berkolaborasi. Maka penting sekarang ini kita memperkenalkan merek kolektif. Kita membuat merek kolektif pada anggota yang tergabung dalam mereka kolektif itu. Mereka tergabung dan sepakat dengan ketentuan dalam perdagangan itu yang menggunakan one-brand, yang terdiri dari bermacam varian, ada kopi, bawang.

“Hal yang baik adalah kita berinteraksi dengan pemerintah (Kementrian Koperansi, Kemenkraf, BUMN), dan saya berharap kita bisa melakukan kolaborasi dalam merespons program-program pemerintah dengan tujuan meningkatkan produktivitas pelaku UMKM di Indonesia,” tutur Ary. * (Rika)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed