oleh

Wisata Rohani, Gereja Ganjuran Memberikan Dampak Ekonomi Pada Warga Bantul

-Berita, Parbud-437 views

Jogja,Komunitastodays,- Salah satu obyek wisata yang terkenal unik di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) adalah Gereja Hati Kudus Tuhan Yesus, Ganjuran, Kelurahan Sumbermulyo, Kecamatan Bambanglipuro, Kabupaten Bantul. Kompleks gereja ini memiliki corak arsitektur yang unik karena ada gapura mirip candi Hindu. Suasana di kompleks gereja terasa sejuk karena pepohonan tumbuh subur menutupi kawasan gereja dan candi. Kompleks gereja bercorak arsitektur unik, ada gapura mirip candi Hindu.

Hancur akibat gempa pada 2006, Gereja Ganjuran dibangun ulang mirip Joglo Jawa. Konsep gereja tak lagi tertutup. Arsitektur Jawa diserap dan dikembangkan. Liturgi Gereja diiring gamelan. Patung Yesus dan Bunda Maria dibuat mirip orang Jawa. Patung Yesus mirip Raja Jawa seperti yang terdapat dalam candi. Lukisan prosesi Jalan Salib juga bernuansa Jawa. Tersua akulturasi budaya Jawa dan Katolik.

Di samping bangunan gereja, terdapat candi yang menjadi ciri khas utama Gereja Hati Kudus Tuhan Yesus, Ganjuran, Bantul. Umumnya para peziarah berdoa di sekitar candi kecil itu, dengan patung Yesus berada di dalamnya.

Sebelum berdoa di depan candi, biasanya umat Katolik akan membasuh diri dengan air yang disalurkan melalui keran di samping candi.

Doa-doa diucapkan dalam hati. Suasana khusyuk itu ditunjang dengan hembusan angin sepoi menyegarkan. Pepohonan tumbuh di kompleks gereja yang memberi rasa adem saat berdoa.

Menurut Romo Raymundus,Selasa,(19/10/2021) gereja ini sudah berdiri sejak 1924, didirikan oleh dua orang awam pemilik pabrik gula, yaitu Joseph Ignaz Julius Maria Schmutzer dan Julius Robert Anton Maria Schmutzer. Mereka memiliki pabrik gula Gondang Lipuro.

“Mereka ingin menerapkan ajaran sosial gereja pada para buruh di pabriknya. Mereka mau memperhatikan kaum lemah, kaum buruh. Dan dapat diterima masyarakat. Karena itu, selain mengelola pabriknya, mereka sekalian mendirikan gereja kecil ini,” jelas Romo Raymundus. Sejak itu banyak orang mulai berdoa di situ, apalagi ketika gereja memberi kesempatan pada budaya Jawa untuk dikembangkan. Gereja pun diterima baik oleh masyarakat sekitar.

Dengan arsitektur unik perpaduan Katolik, Hindu, dan Jawa, itu Gereja Ganjuran menjadi salah satu obyek wisata rohani bagi umat Katolik Indonesia, para wisatawan asing, dan wisatawan domestik. Karena keunikannya, Gereja Ganjuran menjadi kebanggaan masyarakat dan pemerintah Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Wakil Sultan Yogyakarta dan Bupati Bantul sangat bangga dengan Gereja Ganjuran itu, baik arsitekturnya maupun semangat membangun kebersamaan.

Bukan saja orang Katolik yang datang berziarah di tempat ini. Masyarakat pun mendatanginya. Apalagi ketika terdengar kemanjuran air di Gereja Ganjuran yang dapat menyembuhkan mereka yang sakit.

Air pada candi yang terdapat di situ ternyata berkhaziat menyembuhkan penyakit. Biasanya pada Jumat pertama dalam bulan, banyak orang yang berdoa dan mandi di situ. Mereka bersaksi telah sembuh dari penyakit yang diderita. Ada juga doa pada malam Jumat Kliwon, sesuai tradisi Jawa. Semakin banyak orang sembuh lewat air itu, semakin banyak yang datang ke tempat ini. Kesaksian-kesaksian mereka yang sembuh beredar di media sosial Youtube dan sebagainya.

Para penjaja dagangan di sekitar kompleks gereja juga menikmati keuntungan dengan datangnya para peziarah. Semula kompleks itu dibuka 24 jam, namun sejak pendemi covid-19, pengunjung diijinkan masuk sejak pukul 06.00 hingga pukul 22.00 WIB dengan mengikuti protokol kesehatan yang diberlakukan pemerintah daerah Kabupaten Bantul, DIY.

Kehadiran Gereja Ganjuran telah ikut membantu ekonomi warga sekitar dan pemerintah. Salah satu contoh kecil, uang parkir yang didapat dari parkiran, digunakan untuk pemberdayaan masyarakat sekitar. Tak sebatas itu saja.

Romo Raymundus juga terlibat aktif dalam kegiatan RT-RW, seperti ikut rapat RT dan ronda malam bersama warga lainnya. Kehidupan kultural seperti ini melahirkan pribadi-pribadi humanis yang memberdayakan masyarakat. Toleransi memperlihatkan wajahnya dalam langkah-langkah kecil ini.* (Rika)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed